KERTAS HIJAU



(Cerita Fiksi)                                       
~KERTAS HIJAU~


            Berawal dari selembar surat, buah hati menjauh. Izay namanya, ia adalah seniorku yang paling ganteng. Paling ganteng menurutku, karena saat itu aku sangat mengidolakannya. Setiap kali melihatnya, ia seperti pangeran yang disinari cahaya. Wajahnya bersinar-sinar seakan pangeran turun ke bumi. Ah...! Puitis sungguh aku ini.
            Aku, apalah dayaku. Hanya seorang junior yang biasa-biasa saja. Sedangkan dia, keren, ganteng, pintar dan lengkaplah sudah. Saat itu, aku dan dia sangat jauh sekali. Jauh tingkatannya. Aku duduk di bangku Mts, sedangkan dia MA. Tiga tahun bedanya, entah kenapa aku begitu mengidolakan Seniorku itu. Mungkin sikap sinikelnya yang paling kusuka.
            Di tempat aku tinggal, budaya kakak angkat atau abang angkat sepertinya sudah mentradisi. Sebagai junior yang baru menginjak masa remaja, masa-masa pubertas. Aku juga merasakan yang namanya suka terhadap lawan jenis. Ciiieee, ABG. Nah, saat itu aku mulai bercerita kepada teman-temanku bahwa ada senior yang kuidolakan. Dasar remaja, ceritaku malah didukung teman-temanku.
            Jadi beberapa tips digunakan, salah satunya adalah surat-suratan. Ketika itu, teman-teman memberi aku ide untuk menulis surat menggunakan bahasa Inggris, maklum senior yang kuidolakan itu pintar. Awalnya, kami membuat surat menggunakan bahasa Indonesia, setelah itu barulah minta sama kakak kembar si jago English untuk men-translate ke bahasa Indonesia. Maklumlah, masih kanak-kanak, jadi English masih belepotan.
            Sepertinya kakak itu mulai penasaran apa yang kami lakukan. Tapi baiknya dia, kami tidak diinterogasi mati-matian. Temanku si Ova menyarankan aku menggunakan kertas yang keren,  tidak menggunakan motif kartun. Nah, saat itu aku melihat kertas yang berwarna hijau tanpak simple dengan motif yang sederhana. Untuk penulisan pjnya si elvi, karna saat itu tulisannya cukup keren.
            “Siap!....” kata elvi.
            Elvi memberikan kertas hijau yang telah ditulisnya.
            “Yess!...” Ucapku dengan perasaan yang sangat gembira.
            Keesokan harinya, hari dimana surat itu diberikan dan dibaca oleh dia sang pangeranku. Maunya sih gitu, tapi apa yang terjadi? Saat itu aku mempercayai seseorang yang menurutku amanah. Aku merasa lega, karena saat itu suratpun telah terkirim. Namun, setiba di asrama. Beberapa seniorku yang perempuan malah pada bertanya dengan kalimat yang sepertinya mengejek. Aku khawatir, takut dan banyak lagi perasaan yang singgah di pikiranku saat itu.
             khawatirku ternyata benar,entah gimana, surat itu bisa dibaca burung-burung yang berkicau. Akhirnya, terdengar di telingaku, bahwa isi surat kertas hijau itu, malah diberikan oleh sang pangeran ke teman-temannya.
“Pangeran seperti apa dia, TIDAK BERJANTUNG!!!” Ucapku saat itu. Tapi, aku langsung berpikir, kalau sang pangeran tidak berjantung bearti dia selama ini hantu dong? Dan aku tidak mungkin mengidolakan hantu. Jadi, aku berhenti memakinya dalam diam dan memutuskan untuk tidak mengidolakannya lagi.
Aku tidak tahu, apakah pangeran membaca surat kertas hijau itu atau tidak. Intinya, yang kutahu dari kakak-kakak senior yang mengejekku dengan pertanyaan-pertanyaan yang konyol dan memalukan... menurut aku, itu semua tidak benar. Berbeda dari fakta kerta hijau yang kutulis. Padahal, kalau mau tau isi suratnya. Itu adalah tentang, aku yang ingin mengangkatnya menjadi abang, dan kertas itu menggunakan kertas hijau bukan tinta hijau.
Namun, dari situ aku mendapat pelajaran. Sebagai ABG, harus jaga perasaan dan harus rajin belajar. Aku sama sekali tidak merasa menyesal mengidolakannya. Dengan mengidolakannya aku merasa harus mengalahkannya. Harus menjadi remaja yang baik, harus lebih pintar dari dia, harus lebih hebat dari dia, dan banyak lagi... yang mana aku harus selalu utama dari dia. Itu kisahku dulu, bukan sekarang. 
Now, aku dewasa awal. walau sifatku belum desawa, tapi umur telah menuntutku untuk menjadi dewasa. Aku yang sekarang lebih baik dari kemaren. Pengalaman adalah sejarah yang harus dipelajari untuk lebih baik kedepannya.
Idolaku sang pangeran, Thanks.


Note: Ini hanya cerita fiksi, jadi tidak semua ditulisan benar. Ada yang benar dan ada yang mengarang. Tapi hampir semua cerita di tulisan itu benar, walau ada yang tidak benar. Untuk nama-nama yang tertera, itu adalah nama samaran. :)




Komentar